Thursday, February 13, 2014

Nasionalisime Unggul Ala Dino Patti Djalal

Menjelang pemilu pada April 2014 nanti, banyak tokoh-tokoh politik yang muncul, baik yang sudah sering terlihat di berbagai media maupun para tokoh yang keberadaannya ‘baru muncul’ pada saat menjelang pesta demokrasi nanti. Sebut saja Dino Patti Djalal, sebagai salah satu peserta konvensi calon presiden dari partai Demokrat, sosok tersebut bisa dikatakan baru muncul di awal-awal tahun ini. Hal ini tidaklah mengherankan karena mantan duta besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat ini memang jarang berada di Indonesia. Profesinya sebagai duta besar memang mengharuskannya sering berada di luar negeri.
          Lalu, siapakah Dino Patti Djajal? Pria yang akrab disapa Dino ini adalah seorang kelahiran Beogard, Yugoslavia, pada tanggal 10 September 1965 (saat ini berusia 48 tahun). Karir diplomatiknya dimulai tahun 1986, ketika Dino menjadi lokal staf bidang penerangan di Konsular RI di Vancouver. Pada tahun 1987, ia mulai bekerja di Departemen Luar Negeri. Selama menjadi diplomat, Dino telah bertugas di London, Dili, dan terakhir di Washington DC sebagai Kepala Bidang Politik di KBRI. Pada tahun 1999, Dino ditunjuk menjadi jubir Satgas Pemerintah Indonesia (P3TT) di Timor Timur. Tahun 2002, Dino menjadi Direktur Amerika Utara dan Tengah di Deplu. Pada tahun 2004, ia diangkat Presiden Yudhoyono menjadi Staf Khusus / Juru Bicara Kepresidenan bidang Hubungan Internasional. Peningkatan karier Dino terus naik hingga akhirnya ia ditugaskan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat pada tanggal 10 Agustus 2010, kala itu ia berusia 45 tahun.
Selama menjadi Dubes Indonesia untuk Amerika sudah terdapat banyak pencapaian yang berhasil ia lakukan, diantaranya ia telah sukses membentuk The Indonesia Network yakni The Indonesian Diaspora Network (IDN), melaksanakan American Batik Design Competition (ABDC), Indonesia-US Think-Tank Conference yang diselenggarakan di Jakarta pada bulan Juli 2012 dan masih banyak pencapaian lain yang berhasil ia jalankan selama menjadi Duta Besar.

Nasionalisme Unggul, Semangat ’45 di Abad 21

Ada yang menarik dari sosok yang satu ini. Sebagai seorang tokoh kenegaraan ia tidak sungkan untuk dapat berbaur langsung masyarakat. Pernah suatu ketika ia menjadi pelayan di satu resto. Menurut pengakuannya, dulu ia juga pernah nyambi menjadi pelayan di sebuah resto. Ia juga tidak sungkan untuk dapat terjun langsung membantu para korban banjir. Dalam sebuah twitnya ia berujar "Thought : Lebih baik diejek tapi berbuat, daripada mengejek sambil menonton”.
Selain itu, ia mempunyai suatu jargon “Nasionalisme Unggul” yang menurutnya berarti suatu semangat, etos hidup, karakter bangsa, sekaligus resep sukses yang berasal dari tahun Indonesia merdeka, 1945 yang harus diimplementasikan oleh bangsa Indonesia di abad 21 saat ini sehingga dapat membuat bangsa Indonesia melesat menjadi raksasa Asia. Menurutnya, hal ini sangat memungkinkan karena bangsa kita memiliki semua potensi yang disyaratkan. Nasionalisme Unggul menurutnya memiliki sifat moderat, inklusif, adiktif, terbuka, pluralis dan kreatif.

Dino memang telah membukukan gagasannya dengan judul ‘Nasionalisme Unggul : Bukan Hanya Slogan’. Ia mengajak bangsa Indonesia menerapkan nasionalisme unggul dalam kehidupan sehari-hari seperti di rumah, di sekolah, di kantor dan tentu dalam kehidupan bernegara. Alasan utama hal tersebut menurutnya, pada abad ke- 21, merdeka dan berdaulat saja tidak cukup tetapi kita harus unggul di dalam dan di luar.
 “Dulu, pejuang bangsa kita memperjuangkan kemerdekaan, kini generasi kita mengusung interdepence. Dulu kita berjuang melawan kolonialisme, sekarang menjadi bagian globalisme. Dulu ancaman bangsa datang dari luar, kini lebih banyak dari dalam negeri. Dulu Indonesia disebut negara ketiga, kini mempunyai titel yang lebih bermartabat : emerging economy. Dulu pejuang kita bercita-cita bisa sejajar dengan negara lain, sekarang itu sudah tercapai. Tapi tentu itu saja tidak cukup. Kita harus berdiri di garis terdepan pergaulan antar bangsa,” beber Dino Patti Djalal seperti tertulis di lensaindonesia.com.
Dino menegaskan, tahun 2014 lebih dari sekadar tahun Pemilu atau regenerasi politik, akan tetapi harus lebih jelas menentukan arah bangsa Indonesia di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat. Ia menyatakan, tahun 2014 adalah masa dimana kita harus merancang insan Indonesia di abad ke-21. Insan yang bukan saja punya hak-hak sebagai warga negara, namun juga punya akta kelahiran, ijazah pendidikan, listrik, air bersih, rekening bank, KTP, NPWP, pekerjaan, rumah yang layak dan bermasa depan.
Begitulah, sedikit tentang Dino Patti Djalal, seorang yang meraih gelar doktor di bidang hubungan internasional di sekolah bergengsi yakni London School of Economics and Political Science (LSE). Dengan gagasan “Indonesia Unggul” yang digagasnya serta dengan keikutsertaan seluruh elemen masyarakat dalam mencapainya, saya yakin kita dapat bersama-sama memajukan bangsa kita, bangsa Indonesia.

-------------
sumber referensi :
-http://www.modernisator.org/tentang-kami/profil-para-pendiri/dino
-http://www.lensaindonesia.com/2014/02/04/inilah-gagasan-nasionalisme-unggul-ala-dino-patti-djalal.html
sumber gambar : http://id.wikipedia.org/wiki/Dino_Patti_Djalal

0 comments:

Post a Comment