Thursday, June 30, 2016

Home Credit Memudahkan Kita Memenuhi Kebutuhan dan Meraih Impian

2 comments
Jujur saya awalnya sedikit kurang mengerti apa yang dimaksud dengan pembiayaan multiguna. Istilah tersebut memang agak asing bagi saya yang hampir tidak pernah berhutang atau memiliki cicilan. Pada awalnya saya sempat keliru dengan istilah ‘pembiayaan multiguna’ dan ‘kredit multiguna’. Saya kira kedua frasa tersebut memiliki definisi yang sama, namun rupanya berbeda. Saya lalu menemukan salinan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 29/POJK.05/2014 Tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan. Dalam Pasal 1 (4) peraturan yang diterbitkan Otoritas Jasa Keungan (OJK) itu, disebutkan bahwa Pembiayaan Multiguna adalah pembiayaan untuk pengadaan barang dan/atau jasa yang diperlukan oleh debitur untuk pemakaian/konsumsi dan bukan untuk keperluan usaha (aktivitas produksi) dalam jangka waktu yang dijanjikan. Sedangkan kredit multiguna (dari berbagai sumber yang saya baca) bisa diartikan sebagai pinjaman dana tunai yang digunakan untuk segala kebutuhan yang menggunakan dokumen jaminan tertentu sebagai agunan.
Bisa saya simpulkan bahwa pembiayaan multiguna adalah sistem pembayaran/pemberian pinjaman yang diberikan pihak  ketiga untuk pembelian barang/jasa dan bukan untuk modal usaha dengan pembayaran dalam jangka waktu (tenor) tertentu. Dan jenis kredit seperti ini sebenarnya memiliki penerapan yang sangat dekat sekali dengan kehidupan kita sehari-hari, terutama ibu-ibu, termasuk mama saya sendiri.
Mama saya sedari dulu senang sekali membeli barang-barang di rumah secara kredit (dicicil). Mulai dari peralatan dapur, sampai baju saja mama pernah membelinya secara kredit. Barangkali alasannya karena dengan metode ini meski total harga belinya jadi lebih mahal, tapi pembayaran jadi lebih ringan sehingga lebih terjangkau. Bisa saja sebenarnya kita menabung dahulu baru membeli barang yang dibutuhkan, namun sistem ini agaknya lebih ‘riskan’ karena khawatir uang yang sudah terkumpul malah terpakai untuk keperluan lain yang lebih penting atau barang yang ingin dibeli sekarang suatu saat akan habis karena limited stock atau bisa jadi harganya naik jika dibeli nanti (khususnya saat di masa-masa promo).
Nah, pembayaran dengan cara ‘dialihkan’ ke pihak ketiga di luar pembeli dan penjual, untuk kemudian pembayarannya dicicil kepada pihak ketiga tersebut setelah barang dibeli seperti inilah yang disebut dengan sistem pembayaran multiguna. Jadi pembayaran multiguna bukan hal yang baru, hanya mungkin istilahnya saja yang masih terdengar asing.
Mama lebih sering melakukan pembelian secara kredit ke penjual keliling yang memang secara khusus menjual barang dagangannya secara kredit. Penjual seperti ini bisa disebut reseller/dropshiper karena hanya membawa barang dagangan yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh pembeli dengan/tanpa membelinya terlebih dahulu dari penjual. Hal yang berbeda jika kita ingin melakukan pembelian secara kredit di retail modern (tanpa kartu kredit). Biasanya retail tersebut telah bekerja sama dengan perusahaan pembiayaan sebagai pihak ketiga dalam melakukan pembiayaan multiguna langsung di tempat terjadinya transaksi. Perbedaannya terletak pada pihak ke tiga disini yakni perusahaan pembiayaan yang tidak menjual barang, namun menyediakan jasa pembayaran atas pembelian yang kita lakukan.
Ada banyak perusahaan pembiayaan yang menawarkan jasa pembayaran multiguna, diantaranya adalah Home Credit Indonesia. Sebagai perusahaan pembiayaan internasional terkemuka di Indonesia, Home Credit Indonesia menawarkan jasa pembiayaan di tempat transaksi (pembiayaan non-tunai langsung di dalam toko), bagi konsumen yang memenuhi kualifikasi dan bermaksud untuk membeli barang-barang konsumsi tahan lama, seperti furnitur/perabotan rumah tangga, gadget, dan peralatan elektronik.
Kredit tanpa kartu kredit? Dapatkan dengan mudah via Home Credit (via improdukonlinereview.blogspot.com)
Home Credit Indonesia yang berdiri di tahun 2012, saat ini telah memeliki  lebih dari 210.000 klien dan 2000 jaringan distribusi yang tersebar di berbagai retail di kota-kota besar di Indonesia. Kedepannya perusahaan ini akan memperluas jaringan distribusinya sehingga semakin memudahkan kita untuk mendapatkan segala yang kita butuhkan dengan cara yang lebih mudah.
Dengan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis, pembiayaan multiguna yang dilayani oleh Home Credit Indonesia bukan itu saja. Kebutuhan akan pinjaman tunai untuk melakukan kegiatan seperti biaya renovasi rumah, dana pendidikan, biaya kesehatan, dana acara penting seperti resepsi pernikahan bahkan dana rekreasi/liburan juga dapat diajukan.
Berbagai kebutuhan dapat terpenuhi dengan produk pembiayaan FlexiFast dari Home Credit
Selain itu, pengajuan pembiayaan multiguna dengan Home Credit juga dapat dilakukan dengan cara yang sangat mudah dan cepat. Kurang dari 60 menit saja, jika aplikasi yang kita ajukan diterima maka barang yang kita butuhkan dapat segera dibawa pulang dengan uang muka tidak begitu besar. Kita jadi tidak perlu kartu kredit lagi untuk membeli barang yang kita butuhkan secara cicilan. Demikian juga dengan produk pembiayaan untuk keperluan lainnya. Pengajuan dana darurat yang kita butuhkan dapat langsung dilakukan di mana pun, tidak perlu datang ke kantor/toko, Dengan syarat pengajuan yang simple, dana yang kita ajukan dapat diterima dalam 7 hari saja. Home Credit memudahkan kita memenuhi kebutuhan dan meraih impian.

Monday, June 27, 2016

25:20

0 comments
Siang itu, gw lagi luang trus buka instagram. Scroll.. scroll.. muncul postingan foto salah satu temen gw. Foto yang nyesek banget buat gw haha huhuhu :’(
Foto apa sih?
Emm kira2 apa coba yang bikin gw nyesek ,
Apa yooo
Jawabannya adalah..
.
.
Foto temen gw itu lagi pelukan sama cowonya. Temen gw ngadep kamera sambil merem megang bunga. Jadi muka cowonya ga keliat. Hahahahaha nyesek abis kan. Tapi gw nyengir aja sih wkwkw biarlah cukup hati gw aja yang nangis. Mata air di mata kepala gw jangan sampe deh tumpeh2 cuma gara2 begituan.
Siapa sii yang gak mau dipeyuuk? :3 (youtube.com)
Hmmm... pengen tau yaa dipeluk gitu hahaha keluarga gw mah hampir2 ga pernah ada seremoni peluk cium gitu sih wkwk kecuali mungkin kl gw udah lamaaaaaaa ga ada di rumah, trus pulang. Baru deh dipeluk+dicium sayang. Itu pun kayanya cuma sama emak gw doang sih kayanya.. hehe soalnya dulu waktu mamapapa masih kerja di jkt dan gw tinggal di Serang juga gitu. Pas gw kesana mama langsung meluk nyium pipi gw hihi ;’)
Kalo gitu siapa dong yang mau meluk gw. Pacar ga punya. Ah lagian kalopun punya pacar juga ga bakal mau deh gw dipeluk2. Cukuplah my future hubby aja yang bisa grepe2in whole of mine. Aamiin.
Jujur gw mupeng banget sama temen gw itu, sekaligus juga envy abis. Ya Allah kapan ya ada lelaki gentleman yang dateng ke rumah bawa orang tuanya buat ketemu orang tua gw.. semoga secepatnya ya, haha aamiin :D
Kegalauan pengen dipeluk gitu kebawa sampe malem. Pas mau sholat teraweh gw baca2 terjemahan ayat2 Quran yang gw baca sebelumnya. Gw nyampe Al-Furqon (surat ke 25) nih ceritanya.
Trus ya, diantara ayat Al-Furqon itu ada yang jleb banget di hati. Itu tu kaya emang pas banget sama kondisi gw yang sekarang. Ayat apa sih? Artinya apaan emang??
Ayat itu artinya adalah:
“…Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan dari sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat” (Al-Furqon:20)
Duh gw jadi sediiih banget bacanya. Ini sambil ngetik mata gw berkaca2. Sedih banget. Kebaperan gw liat temen yang lagi pelukan trus jadi pengen dipeluk tu ternyata cobaan buat gw. Jadi ngapain gw envy sama suatu hal yang dilarang, kecuali sama mahrom kita? Itu dosa maee.. ga usah ngerasa sedih ngeliat dan pengen dibegituin.
Ya Allah makasih udah ingetin gw :’( gw emang hamba yang dhoif, penuh khilaf. Ampunin hamba ya Allah..
Maaf.. hamba tau itu akan indah kok di waktu yang tepat dengan orang yang tepat nanti. Yang perlu gw lakuin cuma sabar. Engkau sampai menanyakan pada hamba, mau sabar kan? Allah tu Maha Melihat. Dia melihat semua dosa2 gw. Rasanya jijik banget kalo misalnya dosa gw itu ditampilkan jadi kudis pasti kulit gw banyak kudisnya.
:'( (tumblr.com)
Gw emang pendosa sih huhuhu untung Allah Maha Baik banget, mau nyimpen semua aib2 gw biar ga keliat sama orang2, Allah emang baik banget. Gw nya aja kaya gatau diri. Udah mah cuma hamba. Huhuhu ampuni hamba ya Allah :’(

Saturday, June 25, 2016

Kasus ‘Perda Intoleran’ : Mengenal Kota Serang Lebih Dekat

0 comments
allpostersimages.com
Di awal bulan Juni 2016 atau tepatnya di bulan Ramadan 1437 Hijriyah ini ibu kota provinsi Banten, kota Serang ramai diperbincangkan di berbagai media. Penyebabnya karena insiden Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang menyita makanan yang dijual oleh seorang ibu warung makan yang menjual makanannya di siang hari di bulan Ramadan. Dengan dasar Peraturan Daerah (Perda) Kota Serang yang mengatur kegiatan yang dilarang di bulan Ramadan, para petugas Satpol PP itu mengambil barang dagangan sang ibu warung untuk dijadikan barang bukti pelanggaran.
Sebagai warga kota Serang, saya merasa malu dan sedih sekali dengan pemberitaan ini. Mengapa kota tempat saya tinggal ini bisa terkenal karena kasus seperti itu? Kasus tersebut amat mencemari kerukunan antarumat beragama di kota saya yang sebelumnya saya rasa baik-baik saja. Seolah-olah dengan Perda itu umat Islam tidak memberikan izin kepada umat agama selain Islam yang tidak berpuasa untuk makan di luar. Padahal tidak begitu. Tidak ada yang salah dengan Perda yang sudah berlaku hampir 6 tahun tersebut. Bagi kami sudah sangat biasa warung makan tutup di pagi hingga siang hari di bulan puasa dan baru boleh melayani pembeli di waktu menjelang berbuka hingga malam hari. Di bulan suci bagi umat Islam ini justru akan tampak sangat aneh jika ada warung makan yang secara terang-terangan dibuka. Oleh karena itulah pemeritah mengukuhkannya sebagai Perda. Perda adalah aspirasi masyarakat di daerah tempat Perda itu berlaku dan itulah aspirasi masyarakat kota Serang.
Penjual makanan dan minuman tidak merugi. Justru bisa meningkatkan omzet penjualan karena kami punya budaya buka puasa bersama (bukber) yang seringnya diadakan di luar rumah, suatu hal yang amat jarang kami lakukan di bulan-bulan yang lainnya. Teman-teman saya yang Non-Islam (noni) juga biasa ikut acara bukber atau berburu jajanan khas Ramadan juga dan kami tidak merasa keberatan. Mereka juga tidak keberatan warung tidak buka di siang hari di bulan puasa karena jika mereka tidak sanggup memasak makanannya sendiri (seperti untuk orang sakit dan penghuni kos/kontrakan sederhana) biasanya mereka sudah menyiapkan makanan di sore hari sebelumnya. Ada juga biasanya ibu kos yang menyediakan sarapan untuk anak kosnya yang noni. Perda itu sama sekali bukan masalah bagi kami. Kami saling menghormati dan menghargai.
Mayoritas masyarakat Serang beragama Islam. Kebanyakan perempuan disini juga berkerudung, mulai dari anak-anak hingga para perempuan dewasa. Disini kerudung sudah seperti satu budaya (culture). Perempuan Islam yang tidak memakai kerudung saat bepergian akan tampak aneh/tidak biasa. Disamping itu, disini juga ada masyarakat yang memiliki keyakinan lain, seperti Kristen, Katolik, Konghucu, Buddha dan Hindu. Semua agama yang diakui di negara ini ada dalam masyarakat kami. Karena memiliki komunitasnya, hampir tiap agama juga memiliki rumah ibadah dan sekolah agama masing-masing di kota ini. Rasanya kami ‘cuek’ saja dengan keyakinan tiap orang. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku, ayat Al-Quran itu sepertinya menjadi pegangan bagi kami disini. Di hari minggu, saya cukup sering satu angkutan kota (angkot) dengan penumpang yang membaca Alkitab. Rasanya salut sekali, orang itu tampak begitu taat dengan agamanya, memotivasi saya untuk taat juga menjalankan agama saya.
Di silabus, pelajaran agama di sekolah-sekolah negeri kami menggunakan Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai rujukan pembelajaran. Teman-teman yang noni yang bersekolah di sekolah umum bebas mau ikut belajar PAI di kelas atau tidak. Jika tidak ikut pelajaran PAI di kelas, mereka diwajibkan belajar agama di rumah ibadah. Ketika ujian agama, teman-teman yang noni mendapat soal khusus yang kalau tidak salah dikirimkan dari rumah ibadah mereka. Jadi kami mengerjakan soal pelajaran agama sesuai keyakinan kami masing-masing. Tidak ada yang keberatan dengan sistem ini karena di sekolah umum (negeri) biasanya hanya ada sedikit murid noni dan akan terasa ‘tanggung’ jika tiap kelas/tingkat memiliki jam pelajaran agama masing-masing sesuai keyakinannya.
Kasus razia warung makan di siang hari di bulan Ramadan di kota Serang itu terlalu dibesar-besarkan. Penutupan warung makan saat siang hari di bulan puasa disini bukan hanya berlaku untuk warung-warung kecil saja, tapi restoran dan café juga mendapat perlakukan yang sama. Pemberlakukan Perda itu juga bukan karena kami akan tergoda jika tempat makan tersebut buka, saya pikir ini hanya untuk harmonisasi saja. Sama seperti Perda larangan berjualan di hari minggu di beberapa kota di Papua. Saya yakin bahwa Perda di Papua itu diterapkan bukan karena masyarakat Kristiani disana memiliki iman yang lemah sehingga aktivitas perjualan ditiadakan, tapi untuk mengharmonisasikan Ibadah Minggu yang mereka lakukan. Begitu pun dengan kami. Masyarakat kita sudah cukup dewasa untuk dapat saling menghormati satu sama lain. Untuk apa mempermasalahkan hal yang kita tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya?

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa.