Thursday, November 10, 2016

Penghubung Masa Depan, Penyambung Persaudaraan

Serang, ibu kota provinsi Banten ini adalah kota kelahiran saya. Disini jualah saya dibesarkan hingga saat ini. Mungkin sudah membudaya dalam masyarakat Serang bahwa kita lahir, besar dan nanti mati di kota ini. Kita tidak berpindah atau merantau seperti kebiasaan masyarakat yang ada di daerah lain. Meski saya sendiri sejak lulus SMK dulu sebenarnya ingin melanjutkan studi di luar daerah. Namun karena saya anak perempuan dan Ibu merasa khawatir jika saya pergi terlalu jauh dalam jangka waktu lama, akhirnya saya menurut perintah Ibu dengan tetap tinggal disini dan berkuliah di kampus yang ada di kota bersemboyan ‘Kota Madani’ ini.
serangkota.go.id
Wilayah kota Serang terdiri dari 6 kecamatan, yakni kecamatan Cipocok Jaya, kecamatan Curug, kecamatan Kasemen, kecamatan Serang, kecamatan Taktakan dan kecamatan Walantaka. Jika dilihat dari peta administratif di atas, tampak wilayah kota Serang seluruhnya diitari wilayah kabupaten Serang yang merupakan induk dari kota Serang sebelum pemekaran wilayah di tahun 2007.
Letak kota Serang yang berada di tengah ini menyebabkan hampir setiap jalan di kota Serang menjadi penghubung antarkota dan kabupaten di provinsi Banten. Hal ini tidak begitu masalah sebenarnya jika saja kondisi jalan, trotoar, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), terminal dan halte serta trayek transportasi umum disini diatur dengan tertib sehingga membuat nyaman semua kalangan. Namun yang terjadi justru buruk sekali.
Permasalahan pertama yakni kondisi jalan kota Serang dan infrastuktur pendukungnya. Saya sering heran ketika melihat para pekerja Pekerjaan Umum (PU) yang sedang melakukan perbaikan jalan dan pembersihan jalan. Masalahnya adalah karena hanya jalan-jalan yang di sekitar pusat pemerintahan serta jalan menuju kompleks perumahan orang-orang yang ada di pemerintahan saja yang selalu diperbaiki dan dibersihkan. Sementara jalan-jalan lainnya, yang tidak dilalui oleh orang-orang pemerintahan itu, jalan yang hanya dilalui masyarakat biasa rusak parah dan sudah lama sekali tidak diperbaiki.
Jalan warga yang terletak di seberang RSUD Banten yang menuju kel. Curugmanis, kec. Curug, kota Serang rusak parah dan sudah lama tidak diperbaiki.

Jalan yang telah menjadi tanah karena bebatuannya sudah hilang, saking lamanya tidak diperbaiki ini ketika musim hujan tergenang air dan berlumpur sehingga sulit dilalui, membuat sepatu dan sandal setiap anak sekolah dan masyarakat yang melaluinya kotor. Beruntung masyarakat di sekitar tempat tinggal saya masih suka bergotong-royong. Dengan swadaya masyarakat, sore kemarin (9/11) dilakukan perbaikan jalan dengan bahan seadanya, yakni dengan pasir dan bebatuan sungai. Gotong-royong perbaikan jalan ini sudah dilakukan masyarakat dua kali dalam satu tahun ini. Pertama kali dilakukan saat menjelang Idul Fitri 1437, Juli 2016 lalu. Namun karena curah hujan yang tinggi menyebabkan jalan ini kembali rusak.
Jalan yang sama telah berusaha diperbaiki dengan swadaya masyarakat pada 9/11 lalu.

Permasalahan yang kedua adalah trayek angkutan kota (angkot) di kota Serang. Meski sebagian angkot di kota Serang sudah memiliki nomor trayek di setiap kaca depan dan kaca belakangnya, namun dalam kegiatan operasionalnya angkot ini tak ubahnya seperti taksi ketika penumpangnya hanya satu orang, dan akan menjadi seperti mobil carteran ketika penumpangnya banyak. Jadi ketika ingin naik angkot disini, kita tidak perlu menunggu angkot dengan nomor tujuan kita. Cukup katakan tujuan kita ke sang sopir dan ia biasanya akan langsung menyuruh kita untuk naik.
Bagi warga pendatang, seperti mahasiswa dari luar kota Serang mungkin akan merasa kecele ketika pertama kali naik angkot Serang. Sistem angkut yang tak teratur seperti yang saya uraikan di atas menyebabkan sang sopir terpaksa harus mengantarkan tiap penumpang dengan tujuan yang berbeda dengan mengakses trek jalan berbeda pula sehingga memakan waktu tempuh yang lebih lama. Pengguna angkutan umum di kota Serang memang semakin berkurang. Hal itu mungkin yang menyebabkan tiap sopir merasa serba salah ketika hanya mengangkut penumpang sesuai trek yang tertera di mobilnya yang akan menyebabkan jumlah penumpangnya jadi lebih sedikit jika ia mengangkut semua calon penumpang.
Selain karena kesemrawutan trayek angkutan kota, pembelian kendaraan pribadi seperti mobil dan motor yang semakin dipermudah serta rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam pelestarian lingkungan menyebabkan banyak masyarakat disini lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi sebagai moda transportasi sehari-hari daripada angkutan umum. Angkot semakin hari semakin ditinggalkan masyarakat. Sayangnya, kejadian seperti ini malah seperti difasilitasi pemerintah kota Serang dengan sedang dibangunnya jalan Ki Ajurum (jalan Serang-Petir) dari yang sebelumnya satu jalur menjadi dua jalur.
Padahal pemerintah kota Serang seharusnya membuat regulasi dan memberikan fasilitas yang merata, dapat dirasakan oleh seluruh kalangan masyarakat serta meningkatkan kesadaran warga akan bahaya kelangkaan energi dan pemanasan global, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan yang salah satu caranya dengan berhemat energi seperti menggunakan angkutan umum. Pemerintah kota Serang dapat menjadikan kota Bandung sebagai percontohan dalam membuat kebijakan seperti menyediakan angkutan umum berupa bus yang disubsidi pemda sehingga lebih murah dan nyaman, mendukung gerakan naik sepeda (go bike) untuk pergi ke tempat beraktivitas sehari-hari, memberikan subsidi pada unit usaha angkot sehingga angkot dapat beroperasi lebih lancar sesuai trayek yang tercantum di kaca mobil, serta membatasi kepemilikan mobil dan motor dalam satu keluarga.
Semoga suatu hari nanti kota Serang dapat menjadi kota yang aman dan nyaman untuk ditinggali, menjadi pusat percontohan kota dan kabupaten disekitarnya, menjadi kota yang 'benar-benar pantas’ dijadikan ibu kota provinsi Banten dan dapat menjadi Kota Madani yang sesungguhnya. Aamiin.

1 comments:

Post a Comment