Saturday, April 13, 2013

One Piece from My Life

Aku tak tahu apa yang kurasakan saat ini.

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya tipikal orang yang mudah kagum, tapi lekas pula rasa kekaguman tersebut hilang. Tapi tidak untuk satu orang ini... :)

Dia, bisa dikatakan teman masa lalu saya. Dulu, sebelum rasa kekaguman ini ada, saya tidak pernah merasa ada yang spesial dengan dia, bahkan saya kadang merasa sebal jika ada teman satu kelas yang membicarakan dirinya. Kala itu, saya pikir, apa sih lebihnya dia? Sampai saat ini pun—kadang—saya pikir, dia biasa saja. Dia berkulit cokelat, sama seperti saya, dia tidak begitu tinggi (tinggi saya nyaris sama dengannya), dia bermata agak sipit (ada yang mengatakan sih, saya juga agak sipit), dia suka pelajaran eksak, terutama matematika (saya juga ‘sedikit’ suka), dan yang terakhir saya sebutkan, mungkin merupakan salah satu nilai plus bagi dia.



Satu hari spesial yang mungkin masih saya ingat dari dia adalah ketika....... (emm, maaf ya, tidak bisa saya sebutkan, malu kalau sampai dia tahu bahwa tulisan ini adalah tentangnya). Intinya, di hari itu (dan mungkin hari-hari sebelumnya) saya sangat bahagia.

Entahlah, saat itu, suatu takdir membuat saya dan dia one step closer :). Ya, saya tahu sih, kala itu, dia sudah mempunyai seorang pacar. Dan jujur, pada hari-hari kita diharuskan dekat itu, saya sering sekali melihat cewenya melirik-lirik sinis setiap berpapasan dengan saya. Meski tidak diapa-apakan, tapi tetap saja, saya kadang merasa tidak enak hati kalau begini terus, tapi mau bagaimana lagi?? kita ‘kan memang harus dekat demi hal itu. Hmm..

Rasanya geli, beberapa hari kemarin, saya iseng mengetikan namanya di searching box yang ada di facebook, via mobile. Kita sudah berteman, tapi saya tahu, dia juga memiliki beberapa akun fb lain yang tidak ‘friend’ dengan saya. Saya iseng mengeklik akun fb dia yang lain, yang bernama “...... ...... Part II”. Dan, yang bikin saya terkejut sekaligus geli ingin tertawa adalah satu status update dia yang tertulis :

Gwa tau, lo diem2 sering merhatiin gwa kan?? Ngaku dehh, buktinya banyak.. wkawk

Hahaha.. saya sebenarnya tidak tahu sih, status itu ditujukan untuk siapa. Tapi entah, kala itu dada saya berdesir, rasanya malu, juga geli, padahal belum tentu ‘kan status itu ditujukan untuk saya? Tapi kok, saya agak merasa kalau itu untuk saya? Kege-eran kah? Entahlah..

Dia. Saya selalu ingin dekat dengannya. Berdiskusi banyak hal, mendengarkan musik, bernyanyi, tertawa bersama. Yaa, saya tahu sih, dia itu—dengan segala kesederhanaannya—banyak disukai oleh perempuan lain. Saya sangat tahu itu. Dan saya tidak mengharapkan dia menjadi orang spesial dalam hidup saya. Cukup menjadi teman ngobrol yang menyenangkan saja, saya sudah sangat senang :)

Tapi kini, kita terpisah. Saya melanjutkan studi saya ke universitas, sedangkan dia bekerja. Kita hampir tidak pernah lagi ber-sms-an, saling komentar status dan lainnya. Kalau tidak sedang terdesak atau sangat perlu, saya sebenarnya tipikal perempuan yang malas (mungkin lebih tepatnya malu) untuk memulai sms dengan orang lain, biar pun orang itu sudah sangat dekat dengan saya. Entah mungkin malu, malas, gengsi, atau lainnya. Hahh

Tapi jujur, sebenarnya saya ingin sekali bisa berdiskusi lagi dengannya, tentang banyak hal. Sekolah, musik, film, anime, sampai tentang pemerintahan kita diskusikan. Dan saya sangat senang karena ia selalu mau mendengar apa yang saya katakan. Jujur, suara saya yang ‘kecil’ (dan kadang dengan susunan kalimat yang agak membingungkan) kadang membuat banyak orang malas berlama-lama mendengarkan apa yang saya bicarakan. Hal ini mungkin karena kemampuan komunikasi lisan saya yang kurang baik, entah saya tidak tahu. Tapi kalau dengan dia, dia selalu mau mendengar celotehan saya, juga bernyanyi, tertawa.. ah, senangnya :)

Tapi pertanyaan selanjutnya, Mungkinkah??

P.S : this is just.. umm yeah.. fiction story.. haha.. if there's something same, there's just coincidence :) xoxo @cit_mayZ

1 comments:

Post a Comment