Saturday, March 2, 2013

Kota Serang, Dulu dan Sekarang


Sungguh, banyak sekali perubahan yang saya rasakan ketika saya kembali ke Serang, kota kelahiran saya. Masih segar dalam ingatan ketika saya berusia sekitar enam tahun, di hari Minggu saya bangun pukul pukul 07.00 dan udara masih terasa sangat dingin, brrrr.. Hal ini terjadi karena dulu, area pemukiman tempat saya berada masih banyak terdapat pepohonan besar dan rindang seperti pohon sawo, pohon randu dan pohon nangka. Pohon-pohon buah seperti pohon rambutan, pohon jambu batu, pohon jambu air dan pohon belimbing—dulu—menjadi suatu epik yang ada di setiap halaman rumah warga yang—sungguh—menyejukan penglihatan. Dan tidak hanya itu, wangi bunga kopi yang semerbak pun menjadi “opening day” yang menyenangkan bagi saya kala itu. Ah, sungguh indah masa itu!

Dan.. hey! Lihat keadaan sekarang! Kemana pohon-pohon itu?? Pohon-pohon sawo, yang dulu ada di halaman rumah seorang ustadz kemana mereka?? Pohon kopi dan bunga-bunganya yang wangi itu mana?? Kemana?? Saya dengar, demi mendapatkan sejumlah uang, pohon-pohon besar itu ditebang. Ya! di-te-bang. Hati saya bergetar. Ingin rasanya saya memarahi “orang-orang kampung” yang tak tahu apa manfaat dari pohon-pohon itu. Sungguh saya ingin sekali melakukannya! tapi kemudian saya sadar, percuma saya memarahi mereka karena mereka tak tahu apa manfaat dari pohon-pohon itu. Mereka tak tahu efek jangka panjang atas penebangan pohon-pohon itu. Mereka tak tahu... dan hal utama yang mereka tahu bahwa dengan menebang pohon-pohon besar itu dan menjualnya, mereka akan mendapatkan uang. Ya! u-ang.

Sungguh, saya ingin mengatai mereka bodoh. Tapi yang benar saja, mereka melakukan itu karena mereka tidak tahu ‘kan?? Harusnya menjadi tugas mulia bagi “kita” untuk memberitahukan mereka. Beri mereka pengertian tentang hal-hal yang ditimbulkan dari menebang pohon, kaitkan dengan bencana-bencana alam yang sekarang banyak terjadi di berbagai daerah, yang setiap hari dapat mereka lihat di televisi. Tanyakan kepada mereka apakah mereka mau mengalami hal serupa? Tentu tidak ‘kan?? Mengenai pohon-pohon yang sudah tidak ada, mari kita sama-sama menanamnya kembali.

Panas. Banyak yang memberi komentar demikian tentang cuaca Serang saat ini. Ya, memang benar. Apakah hanya ditimbulkan oleh penebangan pohon yang ada di Serang yang saya tulis di atas? Oh tentu, itu adalah salah satu pemicu. Dan celakanya, penebangan pohon tersebut tidak hanya marak terjadi di Serang tapi juga di In-do-ne-si-a. Negara kita—yang dulu—dengan sebutannya jamrud khatulistiwa ternyata merupakan negara dengan persentase penebangan pohon dan penggundulan hutan tertinggi dengan laju kerusakan hutan mencapai 1,87 juta hektar dalam kurun waktu 2000 – 2005 dan hal ini mengakibatkan Indonesia menempati peringkat ke-2 dari sepuluh negara, dengan laju kerusakan tertinggi dunia[1] Jika sudah begitu, masihkah julukan jamrud khatulistiwa layak disematkan pada negeri ini?? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Pembiasaan baru warga Serang dengan kondisi saat ini adalah dengan menggunakan model dan bahan pakaian yang berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.  Mungkin hal ini juga dipengaruhi oleh apa yang banyak mereka lihat di berbagai media. Tapi sungguh, di Serang hal ini hampir tidak ada sebelumnya. Banyak  yang mengatakan bahwa Banten, sebuah provinsi dengan Serang sebagai ibu kotanya, dikenal sebagai provinsi yang agamis. Disini, dulu kita bisa melihat hampir semua perempuan yang mengenakan jilbab dan busana yang terbuat dari bahan yang tebal. Namun sekarang, memang masih ada banyak yang mengenakan jilbab, tapi kesan yang saya dapati, jilbab yang sekarang dipakai hanya sebuah formalitas belaka. Mereka berjilbab hanya ketika hendak pergi ke sekolah/tempat kerja. Sebagian bahkan mulai melepas jilbab mereka dan berpakaian pakaian yang tipis dan menyerap keringat.

Kiat beradaptasi lain dari warga Serang lain dapat kita lihat juga di bidang pertanian, khususnya tani padi yang banyak dilakukan oleh warga. Biasanya, musim yang teratur membuat masyarakat terbiasa menanam padi di bulan Oktober-November dan akan dipanenen sekitar bulan Maret-April. Selanjutnya, mereka menanami kembali sawah mereka dengan tanaman palawija seperti cabai, kacang tanah dan ubi jalar. Hal itu bisa dipahami karena—dulu—meski di bulan April-Oktober curah hujan berkurang, namun masih ada hujan kecil yang sesekali turun di sekitar bulan-bulan tersebut sehingga tanaman masih dapat bertahan hidup.

Dulu, sungai yang ada di sini, biasa dipanggil kali sampan, masih berair meski sedang cuaca kemarau. Namun sekarang apa yang terjadi?? Sungai itu kering! Dan ketika selesai memanen padi, yang menurut pengakuan warga hasil panen di tahun-tahun ini tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya, mereka  membiarkan sawah mereka hingga “musim hujan” datang lagi. Menurut pengakuan mereka, tanaman palawija akan mati karena tidak ada hujan. Sungai yang dulu selalu berair deras, sekarang mulai surut. Dan disaat “musim kemarau” mulai mencapai puncaknya, sungai itu kering-kerontang seperti tanah yang ada  disekitarnya.Memang, karena musim tidak teratur seperti sekarang masih bisa saja masyarakat tani mengakalinya dengan cara menanam tanaman yang “tahan” dengan kemarau yang agak panjang seperti dengan menanam tanaman ketela pohon atau singkong, talas dan umbi rambat.

Namun, dengan adanya perubahan iklim ini, apa yang harus warga Serang lakukan? Apa? Meminta bantuan kah? Kepada siapa? Mungkin Oxfam adalah salah satu solusi, tapi apa itu Oxfam? Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.


Ya, ini adalah salah satu solusi yang terbaik, yang semoga, di masa depan warga Serang dapat menjadi masyarakat yang lebih sejahtera. Bahkan juga untuk negara kita, Indonesia!


[1] Seperti dikatakan Direktur Greenpeace, Elfian Effendi.
P.S. : Wilayah Serang tempat saya bermukim terletak di Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten - Indonesia

4 comments:

Post a Comment